ini kisah yang benar terjadi 5
tahun yang lalu. mungkin beberapa ikhwah pernah melaksanakn hal ini. saat awal
kisah sampai pertengahan memang sesuai rencana, tapi ada yang berbeda di bagian
selanjutnya. saya ucapkan terima kasih kepada yang menulis kisah ini atas
diijinkan mengkopi dan menyebarkannya. tujuan saya menyebarkan sekedar untuk mengingatkan
bahwa berhati - hati dalam melakukan apapun. berikut kisahnya :
Pertengahan tahun 2008
Universitas
SebelasMaret mempersembahkan dua petera terbaiknya ke haribaan Sang Pencipta
Ruh…
10 semester sudah kedua
pemudaitu memasuki alam baru yang berbeda dengan dunia ini. Alam gaib, alam
kubur,barzah, alam keabadian. Mereka hanya menapaki kehidupan di bumi yang
hijau inidengan teramat singkat. Ketua Umum Rohis BPPI Fakultas Ekonomi, Adi Wardhana&
Silman, Ketua Umum FOSMI Fakultas Hukum mengakhiri lembar sejarahkehidupannya.
Kembali ke Negeri Akhirat saat tugas mereka sebagai Orang Utamadi Lembaga
Dakwah Kampus memasuki masa paripurna.
Juni 2008, UKMI & SKI
(SyiarKegiatan Islam) di seluruh fakultas telah selesai mengadakan Muktamar
untukmemilih Ketua Umum yang baru di lembaga tersebut. Memilih orang baru
untukmeneruskan tugas dan melanjutkan kinerja pengurus lama di organisasi
sosialkeagamaan dalam kampus. SKI Fakultas Sastra & Seni Rupa adalah
fakultas palingawal yang mengadakan muktamar dibandingkan dengan SKI SKI
fakultas lain di UNS.Junaidul Fitriyono (Sastra Inggris 2003), Ketum SKI FSSR
mengakhiripengabdiannya di institusi tersebut, pada 17 Maret 2008.
Akhir Juni, sore hari saat aku
bermaindi Masjid Nurul Huda UNS, Adi Wardhana, Ketum BPPI (SKI FE) yang baru
beberapahari demisioner, menghampiriku di teras masjid, ia menyapa terlebih
dahulu lalutersenyum ramah dan menjabat tangan sambil mengajakku duduk di
lantai.
"Akh yudi, akhir
pekandepan tidak ada acara kan?"
"tidak ada akh, free"
"ini ada undangan
khususbuat antum" sambil ia merogoh kertas dari kantong bajunya.
"silakan dibaca nanti
pasdi kos ya" lanjutnya.
"oke akh, Insyaallah"
Sesampainya di Gedung Putih,
koskesayanganku di Solo. Aku membuka lembar kertas yang tadi diserahkan
Adi.Isinya undangan untuk mengikuti acara leadership training bagi semua Ketum
SKIyang baru terpilih. Jadwalnya Sabtu-Minggu, 5-6 Juli 2008 di salah satu SMP
Islamdi Kecamatan Ngadirejo, Wonogiri. Di secuil kertas putih itu tertera:
silakanmembawa lilin, air mineral 1500 ml, tali, kaos dan celana olahraga,
serta uangsaku secukupnya. Satu lagi: Jangan naik sepeda motor. Aku menyambut
seruan itudengan bersegera mencari tahu ke teman kos: Priyo, anak Wonogiri,
disudutmanakah kecamatan Ngadirejo berada.
Hari yang dinanti tiba,
Sabtupagi setelah sholat Shubuh aku mempersiapkan semuanya. Mandi, lalu sarapan
diwarung Bu Alex dekat kos. Pukul 06.00 aku standby di lampu merah perempatanSekar
Pace, yang berjarak kurang dari 100 meter dari Gedung Putih. Aku berdiridi
timur Jalan. Dan ternyata, di seberang jalan, Ngadiyo (Pimpinan Umum
MajalahTazkia, salah satu bidang di SKI FSSR- yang kini menjadi dosen AMIKOM)
jugasedang khusuk menunggu Bus.
"Hoe, Ngadiyo kamu
maukemana?" Teriakku
"Haaa?
Huwahahahaha(seperti biasa, ia tertawa terbahak seperti orang yang bermasalah
dengankejiwaannya).. Yud? kamu to? Ini mau ke Ngruki, aku menjadi kontributor
penulisdi muslimdaily.net" (situs dakwah yang berafiliasi ke Majelis
Mujahidin?)
"Oo, Lha kamu dari kos
kesini Jalan kaki?" tanya ku (kos Ngadiyo di Pesantren Tanwirul
Fikrbelakang kampus)
"Tadi diantar teman,
lhakamu mau kemana Yud?"
"Kamu nggak perlutau!"
"Heh, mau kemana?
ditanyainorang tua, kok sombong banget sih.." Raut mukanya menjadi tidak
lagiramah.
"Ke arah timur!"
"O.. Asu kowe yo.
Arepnyang endi ?? tak lempar sandal kamu baru tau rasa! ditanyain kok.."
Iamelantunkan khutbah paginya.
"Wis, gek lungo kono
!salam untuk mas Fikri!" Sahutku. Ia lalu naik bus, meluncur ke Ngruki,
kePesantren tersohor seantero Bumi.
Aku menunggu bus hampir satu
jamtidak ada yang lewat ke jurusan Wonogiri. Akhirnya aku naik mobil colt
yangmelaju ke arah Palur. Namun, beruntung sekali, ternyata aku salah jalur.
Mobilyang kutumpangi mengintari seluruh penjuru kabupaten Karanganyar, untuk
sampaike Wonogiri memakan waktu lebih dari 3 jam. Dan, untuk sampai ke tempat
tujuan,aku masih naik bus lagi, sehingga tengah hari baru ketemu alamat yang
dituju.
Setibanya di SMP, acara
sudahdimulai, aku telat. Di sebuah ruangan, ku lihat beberapa ikhwan dan
akhwatduduk mendengarkan materi yang disampaikan oleh Saudara Imdad
Durohman,Mahasiswa Senior FE. Setelah mengisi daftar hadir dan ditanyai
panitia, kenapatelat?, lalu aku masuk ruangan bergabung dengan para Ketum baru
dan Kabid Nisa'(Ketua Bidang Keputrian/ (sering disebut: Ibu Negara)) yang
tampak sibuk membuatcatatan kecil. Rasa lelah sehabis perjalanan panjang,
langsung hilang ketikaduduk bersama mereka.
Panita acara training
tersebutadalah semua Ketum SKI dan Kabid Nisa' demisioner, yang rata-rata
angkatan2005. Saudara Junaidul, yang merupakan ketum SKI FSSR demisioner,
berhalanganhadir, mungkin karena ada acara di luar kota, atau mungkin karena
beliauangkatan 2003 sehingga sedikit melanggar kode etik, jika bergabung dalam
tim bersamaketum-ketum demisioner lain yang kesemuanya angakatan 2005.
Acara yang kebanyakan berisi penyampaianmateri, dan diskusi berlangsung sampai
jam 12 malam, dengan pembicaraberbeda-beda, sesuai dengan bidang kepakarannya.
Hampir jam 1 pagi, kita barubisa tidur, diruang kelas, tanpa kasur. Sebelum
itu, ada PR: Menghafal ayattertentu, shubuh nanti akan setor hafalan ke panitia.
Arloji menunjukkan angka
02.30,panitia membangunkan kami: anak-anak gembala. "Bangun dik,
sudahpagi!"
Kami terpaksa bangun.
Sangatterpaksa. Mas-mas panitia memberi misi suci baru:
"Silakan cuci muka,
laluberkumpul!" Yang Dipertuan Agung memberi perintah.
Semua peserta sudah
berjajarrapi di halaman sekolah yang saat itu masih gelap.
"Tugas
kalianadalah...." salah seorang panitiamenyampaikan taklimat
"Satu persatu,
kalianberjalan ke arah timur- ada pertigaan belok ke utara- ada perempatan
belok ketimur: temui seorang panita yang berjaga di pos!"
"Ingat, satu persatu!
satupeserta berjalan, lalu boleh diikuti setelah beberapa lama. Bergiliran!"
Namaku dipanggil,
tibalahgiliranku melangkahkan kaki sendirian ditengah gelapnya malam. Sembari
ku bawasatu mushaf kecil Al Quran untuk hafalan. Aku mengikuti jalur yangdiinstruksikan.
Selang beberapa ratus meter, aku bertemu Silman, Ketum SKI FHdemisioner, ia
berjaga di pos pertama. Mushaf yang kubawa, diamankan Beliau.
Silman memberi instruksi,
"Silakan, jalan lurus
keutara- ada jalan raya, terus berjalan ke barat sampai ketemu jembatan
disebelah utara jalan" ku dengarkan baik baik komandonya, lalu
menapakijalan lagi...
sesampainya di jembatan,
akubertemu Adi Wardhana yang berjaga di pos 2.
"Alhamdulillah Akh
Yudisudah sampai"
"iya Mas, antum
jagasendiri?"
"iya sendirian.. Ini
adatugas terakhir yang harus akh Yudi lakukan sebelum kembali ke markas"
"Apa mas?"
"Di sebelah utara itu
adajalan kecil, kamu lihat kan?" (ia sambil menunjukkan jari k eke arah
utarajalan raya yang gelap gulita)
"Jalan itu mas?"
(Kupandangi lagi jalan tanpa aspal, yang kanan kirinya ditumbuhi rumpun
bambu,tanpa lampu)
"iya. Dan disana,
dibalikpepohonan itu ada kuburan tua, tolong kamu cari makam mbah anu yang
terletak dibagian pojok kuburan dibawah pohon beringin!"
"Hah?" Aku langsungkeluar
keringat dingin saat mendengar perintah horornya.
"dan, kamu cari lagi
makamdi sebelah pohon besar, kamu catat nama dan tanggal wafatnya!"
"Masyaallah, mas..
sayatidak berani uji nyali disini"
"Pokoknya, harus!
tidakapa-apa."
"Saya menyerah akh!"
"Tidak boleh. Ini ada
lilinkamu nyalakan! untuk penerang jalan ke kuburan"
"Maaf mas, tidak
bisa!Lebih baik aku dihukum push up seratus kali, daripada ke tempat itu"
Akumengelak tugas panitia. Pada saat yang bersamaan, aku lihat seorang
pesertayang berlari dari arah kegelapan setelah sukses menjalankan misi ke
rumah orangmati.
"Tu, si anu aja
berani,masak kamu tidak?" Akh Adi kembali melakukan persuasi.
"Tidak akh. Saya tak
balikke markas saja"
Akhirnya, Adi Wardhana
kehilangankata-kata lagi
"Ya, sudah nggakapa-apa"
Ku dengarkan, beliau memberikan ijin khusus. Masih dengansuaranya yang sangat
ramah.
"nha, begitu dong ,
syukron.." Aku menyampaikan terimakasih sedalam-dalamnya kepada Beliau
yangbermurah hati.
Ku tinggalkan pos 2,
untukkembali ke Gedung SMP. Beberapa saat kemudian, telah masuk waktu shubuh.
Kamisholat berjamaah, lalu setor hafalan. Seseorang datang memberikan mushafku
"Ini tadi dititipi
akhSilman" kata orang itu.
“oke, thanks”
Sehabis mendirikan sholat
shubuh,kami membaca Al Quran sekian lembar dan Al Ma’surat. Suasana subuh yang
begituhening terpecahkan oleh lantunan syahdu ayat-ayat suci.
Pukul setengah enam, Hari
sudahsangat terang karena musim itu kemarau. Mentari berjalan lambat dari
ufuktimur, dengan sinar emasnya yang mampu menghalau hawa dingin.
Panitiamenggiring kami ke kebun belakang sekolah, sebidang tanah yang kering
dengansedikit rumput, dan masih tersisa beberapa spesies hijau yang tumbuh
sepertiketela dan pohon pisang. Peserta dan panita ikhwan berkumpul disitu
untukbersiap bermain bola. Pertandingan yang unik, karena jumlah pemain di tim
A danB tidak sama. Yang penting seru. Di tim tempat ku merumput, sang
kaptenmempercayaiku sebagai striker, dan kalau sudah capek berganti menjadi
keeper.
Bola plastik bewarna putih
itudikejar, dan diperebutkan para pemain untuk selanjutnya ditembakkan ke
gawanglawan yang gawangnya hanyalah dua tonggak kayu. Tentu, lebar kedua
gawangtersebut tidak sama persis, hanya dikira-kira.
Setengah jam berlarian di
kebunsekolah, suasana menjadi memanas, debu abu-abu beterbangan menutup
pandangankarena di acak acak oleh kaki pemain. Ditengah riuh dan serunya
permainan. Adaorang datang berlari dengan nafas terengah-engah. Entah apa yang
orang itusampaikan. Tiba-tiba semua berlari. Bola centil yang tadi diperebutkan,
tak adalagi yang mau peduli. Semua berlarian, tak terkecuali para peserta
termasukaku.
“Ini ada apa to, kok
kitadisuruh mlayu?” Tanya ku.
“Nggak tau akh, katanya ada
yangtenggelam” Balas salah seorang teman, yang juga sambil berlari kencang.
Kami semua tunggang
langgangmelangkahkan kaki setinggi-tingginya. Tak tau kemana. Mencari apa.
Hanyaberlari. Menyeberang jalan raya. Berlarian di hamparan sawah yang
luas.Menginjak-injak pematang. Melewati jalan kecil yang naik turun. Lalu
sampai kesungai.
“Ada apa to ini?”
seseorangbertanya.
“Aku juga tidak tahu apa
dosakita, sehingga harus lari jauh-jauh” jawab ku.
Aku tidak tau siapa
yangtenggelam. Dalam hati menebak-nebak “Ini pasti hanya acara stressing”.
Sudahterlalu sering aku menjadi peserta suatu acara, lalu panitia
mempersembahkansebuah drama agar peserta merasa shock, lalu pada akhirnya
ketawa ketawaseperti di reality show supertrap.
Sungai itu lumayan besar
dandalam, tapi karena waktu itu musim kemarau Bulan Juli, ketinggian air
rata-ratahanya sebatas mata kaki. Sangat dangkal. Fenomena itu menguatkan
persangkaankubahwa kisah orang tenggelam di sungai itu hanyalah berita lucu
untuk menipukami para peserta. Sangat tidak masuk akal jika ada orang tenggelam
di sungaiyang kedalaman airnya tidak ada 20 senti. Sembari berlari menyusuri
sungai,dalam hati aku tertawa geli. Kami berlari kecil ke arah timur mengikuti
langkahpara senior. Ku jumpai tiga akhwat panitia duduk ditepi sungai sambil
menangis.Akh Khayat Rosyadi, Ketum JN UKMI demisioner juga duduk tak berdaya,
kelopakmatanya sembab, ia menjelaskan ke orang-orang dengan suara parau. Lalu,
kulihatpula beberapa warga dusun datang menonton, mereka berdiri dan
berteriak-teriakdi atas jembatan dan di pematang sawah. Melihat panitia
menangis dan banyaknyawarga hadirin, dalam hati aku memuji para panitia. Hebat
sekali mereka! Hanyauntuk satu sesi acara stressing saja mereka bersusah-susah
mengumpulkanpenduduk pribumi?! Seketika aku teringat dengan beberapa acara
reality showyang sering ku tonton di tv. Keren! Sandiwara yang apik! (pikirku).
Sampailah kami di muara
sungai,yang kedalamannya sekitar satu lutut. Disitu berkerumun manusia-manusia
hausinformasi. Sungai yang terletak di tengah-tengah persawahan yang jauh
daridusun, yang sangat sepi itu, mendadak menjadi tempat kumpulan khalayak.
Ku amati juga, saudara
IkhwanulMuslimin, Ketum SKI F. Pertanian demisioner yang berenang dan menyelam
di muarasungai itu. Bagiku, itu pemandangan lucu. Air bewarna cokelat sedalam
setengahmeter kok untuk menyelam?. Ia memasukkan diri ke air, sebentar kemudian
muncullagi. Sesekali ku lihat ia senyum-senyum. Sangat kontras dengan ekspresi
mukapanitia lain yang prihatin, cemas, dan panik. Senyum Ikhwanul, si
penyelamtersebut mendukung asumsiku bahwa ini hanya sinetron religi yang
sedangkuperankan.
Vika Yogi, ketum demisioner
MIPAberlari kebingungan mencari tambang, raut wajahnya dan caranya
bejalanmenunjukkan kegugupan dan panik luar biasa. Andi Hakim (FKIP) terduduk
denganmuka memerah dan mata berlinangan. Serta, penduduk setempat yang
berdatangan, semakinbertambah bilangannya.
Muara sungai itu
letaknyadisebelah dam (bendungan penampungan air). Diantara sungai dan dam itu
dibatasioleh pintu air- yang diatasnya terdapat jembatan yang bisa dilalui
pejalankaki. Satu jam lebih aku duduk bersama hadirin lain menyaksikan
saudaraIkhwanul Muslimin membenamkan diri ke air. Sampai, pukul 07.45,
datanglahrombongan tim sar dan polisi. Melihat orang-orang berseragam orange
dan coklattersebut, aku mulai mengubah pikiran dan dugaanku bahwa ini bukan
drama sepertiyang aku terka-terka sebelumnya. Ini bukan hiburan untuk kami para
pesertatraining!. Polisi mulai menginterview Khayat Rosyadi, sedangkan tim sar
mulaimenjalankan misi sucinya: berenang danmenyelam ke dasar sungai.
Kami mulai melangkah lebih
dekatke muara, agar mata dan telinga bisa lebih jelas untuk menangkap
kisahperistiwa pagi itu.
Kurang dari 10 menit kemudian,
Tim sar menarik tubuh
seseorangyang tertidur
Innalillahi…Ya Allah….
Semua hadirin tercengang
danserta merta melantunkan kalimat Allah. Tangis beberapa akhwat,
semakinterdengar nyaring. Semua panita dan peserta menitikkan air mata, mulut
merekaterkunci tak berucap kata-kata. Satu menit kemudian, tim sar menarik
jasadsalah seorang ikhwan lainnya. Semua, hanya bisa terdiam, menatap kedua
sahabatterbaik yang kini tidak lagi membuka mata. Tubuh Adiwardhana &
Silmandimasukkan kedalam kantong jenazah lalu dibawa mobil ambulans ke RSUD
Wonogiri.
Antara percaya dan tidak,
kamisemua berharap-harap ini hanyalah mimpi buruk pagi, yang sebentar lagi
akanbangun di dunia sebenarnya. Kembali bermain bola dikebun belakang
sekolah.Kembali melanjutkan outbound yang telah dirancang panitia. Namun impian
ituhanyalah angan kosong yang tidak nyata. Apa yang dihadapi pagi ini
sebuahkenyataan getir yang telah menjadi suratan.
Setelah sekian lama duduk
lesudi tepian sungai, kami semua membubarkan diri. Panitia & peserta
kembali kemarkas di gedung SMP. Kembali menyeberangi lautan sawah.
Setibanya di sekolahan,
kamimemanjatkan doa bersama. Dengan penuh haru. Dengan air mata
mengalir,menghanyutkan kesedihan. Rangkaian acara hari Minggu yang telah disusun
panitadibatalkan. Tidak ada outbound. Tidak ada acara masak-masak. Tidak ada.
Yangada hanyalah sedu- isak tangis.
Sesaat setelah kecelakaan
ituterjadi, aku langsung menghubungi seniorku di SKI Sastra: Junaidul
Fitriyono,Tutut Wulandari, Ngadiyo, Lia Adhedia, dan Ardianus Ikhsan (yang
waktu itubeliau sedang melakukan kunjungan kenegaraan ke Kota Bogor). Tentu
mereka semuashock, dan berharap saya hanya salah bicara atau mengigau.
Pukul 10.00 peserta
dipulangkandengan naik bus ke kota Surakarta. Di tengah perjalanan, semua
adegan sejakbangun tidur, jalan di gelap malam, tilawah, sepak bola, berlari ke
sawah,sampai melihat dengan jelas kedua sahabat diangkat Tim sar- terekam
jelas, danfilm itu diputar berulang ulang dalam memori.
Tengah hari para peserta
sampaidi kota Solo dengan kondisi lemas dan payah. Beberapa panitia masih di
RSUDWonogiri, dan beberapa lagi dimintai keterangan oleh pihak polisi. Dihari
itujuga, Silman dimakamkan di desanya di daerah Wonogiri, sedangkan
Adiwardhanadimakamkan di kecamatan Ngrambe, Ngawi.
Petang hari, saya dan
beberapaikhwan melayat ke Ngawi, dirumah almarhum kami disambut oleh Ibu
Adiwardhana,dan saudara kembarnya Adiwardhani. Luar biasa, Ibu Adiwardhana
begitu tabah dansabar menghadapi cobaan berat yang menimpa keluarganya. Beliau
tidakmenampakkan kesedihan luar biasa, dan begitu antusias mendengarkan
KhayatRosyadi yang menjelaskan kronologi terjadinya kecelakaan.
***
Pagi itu, Keempat panitia:Khayat
Rosyadi (FE), Andi Hakim (FKIP), Adiwardhana (FE), dan Silman (FH),
sedangmengfixkan rute outbound, disaat panitia lain dan peserta sedang bermain
bola. Keempatnyaberjalan melewati hamparan sawah, dan menyusuri sungai. Mereka
begitu asyikmelakukan survey sambil bermain lumpur pinggir kali, dan
berfoto-foto. Merekaberjalan mendekati muara untuk membersihkan diri karena
lumpur, karena genanganair muara cukup banyak dibandingkan dengan air yang
tersisa di alur sungai.Silman berjalan ke tengah tengah, yang kedalamannya
sekitar satu lutut.Sedangkan ketiga lainnya masih duduk duduk ditepi sungai.
Beberapa detikkemudian, Silman terperosok tepat di tengah muara, ia masuk
kedalam air sambilminta tolong dan tangannya menggapai-gapai. Ketiga yang lain
tertawa gelimelihat Silman yang dikiranya sedang berakting tenggelam. Sangat
lucu jika airdangkal bisa menghanyutkan. Namun pikiran mereka berubah tatkala
melihat Silmanbenar-benar tenggelam.
Tanpa berfikir
panjang,Adiwardha langsung berlari dan masuk muara untuk menolong Silman.
Namun, karenabeliau juga tidak bisa berenang, akhirnya turut tenggelam. Melihat
keduatemannya masuk kedalam air, Khayat Rosyadi berusaha menyelamatkan
keduanya.Namun gagal juga karena tidak bisa berenang. Ketiganya tenggelam, lalu
AndiHakim menceburkan diri ke Muara. Ternyata ditengah sungai itu ada sumur
sedalam4 meter. Khayat sempat menyentuh dan merangkul Silman dan Adhiwardha.
Namunakhirnya ikatan itu lepas karena sama sama tenggelam. Andi Hakim adalah
orangpertama yang bisa naik ke atas, lalu ia menarik Khayat ke atas. Jika
Khayatterlambat ditarik beberapa detik saja, entah apa yang terjadi. Ia
telahkehabisan oksigen, dan sudah banyak air sungai yang diminumnya.
Hanya dua yang selamat, Andi
danKhayat berteriak-teriak meminta tolong. Khayat berlari dengan kondisi
lemas,dan jatuh bangun di jalan. Dan usaha mereka untuk mencari bantuan, tidak
bisamenolong nyawa kedua temannya..
Tubuh Adiwardhana dan
Silmanberhasil diangkat pukul 08.00 pagi, dua jam setelah tenggelam.
***
Ibu Adiwardhana
mendengarkancerita Khayat dengan seksama…
“Boleh Ibu melihat foto-foto sebelum kecelakaan itu terjadi?” Beliau
inginsekali melihat momen terakhir sebelum putera kesayangannya itu pergi
selamanya.
“Sayang sekali Bu, kamera
ituturut tenggelam, sehingga gambar kami saat survey turut lenyap” Jawab
KhayatRosyadi dengan sedikit kekecewaan.
Di petang itu juga,
Kakek-NenekAdiwardhana juga baru tiba di Ngawi dari tempat jauh, entah dari
mana. SangNenek langsung menagis memanggil-manggil Adi, sedangkan sang Kakek tampak
lebihtenang. Beliau turut menginterview kami teman terakhir yang bersama
Almarhum,dan berpesan agar disampaikan ke perangkat desa supaya mereka menutup
sumurtempat kecelakaan itu, sehingga tidak ada korban lagi dikemudian hari.
Adiwardhani, saudara kembaralmarhum
mengatakan Adi telah dimakamkan tadi sore di samping makam ayahandanyadi
kampung tersebut. Seperti halnya ibunya, Adiwardhani juga tampak tenang
danbegitu tabah. Malam hari, kami berpamitan untuk kembali ke Solo.
Akuberboncengan dengan Luhur, Ketum SKI F. Pertanian yang baru,
menggantikanIkhwanul Muslimin. Ditengah perjalanan, film tentang kejadian tadi
pagi selaludiputar berulang-ulang.
****
Aku mengenal Adiwardhana
dansaudara kembarnya Adiwardhani sejak pertengahan tahun 2006. Kebetulan kosmereka
dekat dengan kos Gedung Putih. Kami biasa bertemu di warung Bu Alexuntuk
sarapan atau sahur saat puasa. Adiwardhana menyebut dirinya sebagai‘Adi’,
sedangkan Adiwardhani memperkenalkan diri sebagai ‘Dani’. Wajah keduanyasangat
mirip, sehingga aku tidak bisa mengidentifikasi mana yang Adi, mana yangDani.
Kemana-mana mereka selalu bersama, jika tidak sedang kuliah. WalaupunDani
belajar di Universitas Muhammadiyah Surakarta yang letaknya disebelahbarat Kota
Solo, namun ia tinggal di kos dekat UNS, satu kamar dengan saudarakembarnya.
Tak pernah berpisah, sampai mautlah yang memisahkan keduanya.
Anehnya, aku baru bisa
mengenalibahwa secara fisik antara Adi dan Dani itu sedikit berbeda, baru
setelah Adimeninggal dunia. Sebelumnya, aku selalu salah tebak, tak bisa
membedakan wajahmereka.
***
Setelah peristiwa naas itu,
SKISastra menjadi lebih hati-hati. Beberapa tahun sesudahnya, acara outbound
disungai ditiadakan. Khawatir jika peserta ada yang terpeleset dan terbawa
arus.Tatkala ada pengurus SKI Sastra yang mengusulkan atau memutuskan diadakannya
acaraoutbound di sungai di daerah Karanganyar atau Boyolali, aku langsung
memvetonya. Jika terjadi hal-hal seperti dulu, siapa yang bertanggung jawab?.
Kalau yanghanyut cuma handphone atau dompet saja tidak jadi soal, masih bisa
dicarikangantinya. Kalau berhubungan dengan nyawa, maka aku lebih memilih cara
aman. Danlagi, jika keluarga korban sabar, tabah, dan menerimanya sebagai
takdir itumasih bagus. Kalau keluarga korban tidak terima, dan menuntut
dikembalikannyawanya- itu bisa memicu konflik bersenjata.
====
(Boleh jadi
memorisaya bermasalah, sehingga ada cerita peristiwa yang terlewatkan atau
salah,masih banyak saksi sejarah yang bisa mengkoreksinya)
semoga bisa mengambil hikmahnya ya... syukron ...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar