Kamis, 02 Mei 2013

kisah 5 tahun lalu: untukmu dakwah kampus UNS



ini kisah yang benar terjadi 5 tahun yang lalu. mungkin beberapa ikhwah pernah melaksanakn hal ini. saat awal kisah sampai pertengahan memang sesuai rencana, tapi ada yang berbeda di bagian selanjutnya. saya ucapkan terima kasih kepada yang menulis kisah ini atas diijinkan mengkopi dan menyebarkannya. tujuan saya menyebarkan sekedar untuk mengingatkan bahwa berhati - hati dalam melakukan apapun. berikut kisahnya :

Pertengahan tahun 2008
Universitas SebelasMaret mempersembahkan dua petera terbaiknya ke haribaan Sang Pencipta Ruh…              

10 semester sudah kedua pemudaitu memasuki alam baru yang berbeda dengan dunia ini. Alam gaib, alam kubur,barzah, alam keabadian. Mereka hanya menapaki kehidupan di bumi yang hijau inidengan teramat singkat. Ketua Umum Rohis BPPI Fakultas Ekonomi, Adi Wardhana& Silman, Ketua Umum FOSMI Fakultas Hukum mengakhiri lembar sejarahkehidupannya. Kembali ke Negeri Akhirat saat tugas mereka sebagai Orang Utamadi Lembaga Dakwah Kampus memasuki masa paripurna.

Juni 2008, UKMI & SKI (SyiarKegiatan Islam) di seluruh fakultas telah selesai mengadakan Muktamar untukmemilih Ketua Umum yang baru di lembaga tersebut. Memilih orang baru untukmeneruskan tugas dan melanjutkan kinerja pengurus lama di organisasi sosialkeagamaan dalam kampus. SKI Fakultas Sastra & Seni Rupa adalah fakultas palingawal yang mengadakan muktamar dibandingkan dengan SKI SKI fakultas lain di UNS.Junaidul Fitriyono (Sastra Inggris 2003), Ketum SKI FSSR mengakhiripengabdiannya di institusi tersebut, pada 17 Maret 2008.

Akhir Juni, sore hari saat aku bermaindi Masjid Nurul Huda UNS, Adi Wardhana, Ketum BPPI (SKI FE) yang baru beberapahari demisioner, menghampiriku di teras masjid, ia menyapa terlebih dahulu lalutersenyum ramah dan menjabat tangan sambil mengajakku duduk di lantai.
"Akh yudi, akhir pekandepan tidak ada acara kan?"
"tidak ada akh, free"
"ini ada undangan khususbuat antum" sambil ia merogoh kertas dari kantong bajunya.
"silakan dibaca nanti pasdi kos ya" lanjutnya.
"oke akh, Insyaallah"
 

Sesampainya di Gedung Putih, koskesayanganku di Solo. Aku membuka lembar kertas yang tadi diserahkan Adi.Isinya undangan untuk mengikuti acara leadership training bagi semua Ketum SKIyang baru terpilih. Jadwalnya Sabtu-Minggu, 5-6 Juli 2008 di salah satu SMP Islamdi Kecamatan Ngadirejo, Wonogiri. Di secuil kertas putih itu tertera: silakanmembawa lilin, air mineral 1500 ml, tali, kaos dan celana olahraga, serta uangsaku secukupnya. Satu lagi: Jangan naik sepeda motor. Aku menyambut seruan itudengan bersegera mencari tahu ke teman kos: Priyo, anak Wonogiri, disudutmanakah kecamatan Ngadirejo berada.

Hari yang dinanti tiba, Sabtupagi setelah sholat Shubuh aku mempersiapkan semuanya. Mandi, lalu sarapan diwarung Bu Alex dekat kos. Pukul 06.00 aku standby di lampu merah perempatanSekar Pace, yang berjarak kurang dari 100 meter dari Gedung Putih. Aku berdiridi timur Jalan. Dan ternyata, di seberang jalan, Ngadiyo (Pimpinan Umum MajalahTazkia, salah satu bidang di SKI FSSR- yang kini menjadi dosen AMIKOM) jugasedang khusuk menunggu Bus.

"Hoe, Ngadiyo kamu maukemana?" Teriakku
"Haaa? Huwahahahaha(seperti biasa, ia tertawa terbahak seperti orang yang bermasalah dengankejiwaannya).. Yud? kamu to? Ini mau ke Ngruki, aku menjadi kontributor penulisdi muslimdaily.net" (situs dakwah yang berafiliasi ke Majelis Mujahidin?)
"Oo, Lha kamu dari kos kesini Jalan kaki?" tanya ku (kos Ngadiyo di Pesantren Tanwirul Fikrbelakang kampus)
"Tadi diantar teman, lhakamu mau kemana Yud?"
"Kamu nggak perlutau!"
"Heh, mau kemana? ditanyainorang tua, kok sombong banget sih.." Raut mukanya menjadi tidak lagiramah.
"Ke arah timur!"
"O.. Asu kowe yo. Arepnyang endi ?? tak lempar sandal kamu baru tau rasa! ditanyain kok.." Iamelantunkan khutbah paginya.
"Wis, gek lungo kono !salam untuk mas Fikri!" Sahutku. Ia lalu naik bus, meluncur ke Ngruki, kePesantren tersohor seantero Bumi.

Aku menunggu bus hampir satu jamtidak ada yang lewat ke jurusan Wonogiri. Akhirnya aku naik mobil colt yangmelaju ke arah Palur. Namun, beruntung sekali, ternyata aku salah jalur. Mobilyang kutumpangi mengintari seluruh penjuru kabupaten Karanganyar, untuk sampaike Wonogiri memakan waktu lebih dari 3 jam. Dan, untuk sampai ke tempat tujuan,aku masih naik bus lagi, sehingga tengah hari baru ketemu alamat yang dituju.

Setibanya di SMP, acara sudahdimulai, aku telat. Di sebuah ruangan, ku lihat beberapa ikhwan dan akhwatduduk mendengarkan materi yang disampaikan oleh Saudara Imdad Durohman,Mahasiswa Senior FE. Setelah mengisi daftar hadir dan ditanyai panitia, kenapatelat?, lalu aku masuk ruangan bergabung dengan para Ketum baru dan Kabid Nisa'(Ketua Bidang Keputrian/ (sering disebut: Ibu Negara)) yang tampak sibuk membuatcatatan kecil. Rasa lelah sehabis perjalanan panjang, langsung hilang ketikaduduk bersama mereka.

Panita acara training tersebutadalah semua Ketum SKI dan Kabid Nisa' demisioner, yang rata-rata angkatan2005. Saudara Junaidul, yang merupakan ketum SKI FSSR demisioner, berhalanganhadir, mungkin karena ada acara di luar kota, atau mungkin karena beliauangkatan 2003 sehingga sedikit melanggar kode etik, jika bergabung dalam tim bersamaketum-ketum demisioner lain yang kesemuanya angakatan 2005.  Acara yang kebanyakan berisi penyampaianmateri, dan diskusi berlangsung sampai jam 12 malam, dengan pembicaraberbeda-beda, sesuai dengan bidang kepakarannya. Hampir jam 1 pagi, kita barubisa tidur, diruang kelas, tanpa kasur. Sebelum itu, ada PR: Menghafal ayattertentu, shubuh nanti akan setor hafalan ke panitia.

Arloji menunjukkan angka 02.30,panitia membangunkan kami: anak-anak gembala. "Bangun dik, sudahpagi!"
Kami terpaksa bangun. Sangatterpaksa. Mas-mas panitia memberi misi suci baru:
"Silakan cuci muka, laluberkumpul!" Yang Dipertuan Agung memberi perintah.
Semua peserta sudah berjajarrapi di halaman sekolah yang saat itu masih gelap.
"Tugas kalianadalah...."  salah seorang panitiamenyampaikan taklimat
"Satu persatu, kalianberjalan ke arah timur- ada pertigaan belok ke utara- ada perempatan belok ketimur: temui seorang panita yang berjaga di pos!"
"Ingat, satu persatu! satupeserta berjalan, lalu boleh diikuti setelah beberapa lama. Bergiliran!"

Namaku dipanggil, tibalahgiliranku melangkahkan kaki sendirian ditengah gelapnya malam. Sembari ku bawasatu mushaf kecil Al Quran untuk hafalan. Aku mengikuti jalur yangdiinstruksikan. Selang beberapa ratus meter, aku bertemu Silman, Ketum SKI FHdemisioner, ia berjaga di pos pertama. Mushaf yang kubawa, diamankan Beliau.
Silman memberi instruksi,

"Silakan, jalan lurus keutara- ada jalan raya, terus berjalan ke barat sampai ketemu jembatan disebelah utara jalan" ku dengarkan baik baik komandonya, lalu menapakijalan lagi...
sesampainya di jembatan, akubertemu Adi Wardhana yang berjaga di pos 2.

"Alhamdulillah Akh Yudisudah sampai"
"iya Mas, antum jagasendiri?"
"iya sendirian.. Ini adatugas terakhir yang harus akh Yudi lakukan sebelum kembali ke markas"
"Apa mas?"
"Di sebelah utara itu adajalan kecil, kamu lihat kan?" (ia sambil menunjukkan jari k eke arah utarajalan raya yang gelap gulita)
"Jalan itu mas?" (Kupandangi lagi jalan tanpa aspal, yang kanan kirinya ditumbuhi rumpun bambu,tanpa lampu)
"iya. Dan disana, dibalikpepohonan itu ada kuburan tua, tolong kamu cari makam mbah anu yang terletak dibagian pojok kuburan dibawah pohon beringin!"
"Hah?" Aku langsungkeluar keringat dingin saat mendengar perintah horornya.
"dan, kamu cari lagi makamdi sebelah pohon besar, kamu catat nama dan tanggal wafatnya!"
"Masyaallah, mas.. sayatidak berani uji nyali disini"
"Pokoknya, harus! tidakapa-apa."
"Saya menyerah akh!"
"Tidak boleh. Ini ada lilinkamu nyalakan! untuk penerang jalan ke kuburan"
"Maaf mas, tidak bisa!Lebih baik aku dihukum push up seratus kali, daripada ke tempat itu" Akumengelak tugas panitia. Pada saat yang bersamaan, aku lihat seorang pesertayang berlari dari arah kegelapan setelah sukses menjalankan misi ke rumah orangmati.
"Tu, si anu aja berani,masak kamu tidak?" Akh Adi kembali melakukan persuasi.
"Tidak akh. Saya tak balikke markas saja"
Akhirnya, Adi Wardhana kehilangankata-kata lagi
"Ya, sudah nggakapa-apa" Ku dengarkan, beliau memberikan ijin khusus. Masih dengansuaranya yang sangat ramah.
"nha, begitu dong , syukron.." Aku menyampaikan terimakasih sedalam-dalamnya kepada Beliau yangbermurah hati.

Ku tinggalkan pos 2, untukkembali ke Gedung SMP. Beberapa saat kemudian, telah masuk waktu shubuh. Kamisholat berjamaah, lalu setor hafalan. Seseorang datang memberikan mushafku
"Ini tadi dititipi akhSilman" kata orang itu.
“oke, thanks”
Sehabis mendirikan sholat shubuh,kami membaca Al Quran sekian lembar dan Al Ma’surat. Suasana subuh yang begituhening terpecahkan oleh lantunan syahdu ayat-ayat suci.

Pukul setengah enam, Hari sudahsangat terang karena musim itu kemarau. Mentari berjalan lambat dari ufuktimur, dengan sinar emasnya yang mampu menghalau hawa dingin. Panitiamenggiring kami ke kebun belakang sekolah, sebidang tanah yang kering dengansedikit rumput, dan masih tersisa beberapa spesies hijau yang tumbuh sepertiketela dan pohon pisang. Peserta dan panita ikhwan berkumpul disitu untukbersiap bermain bola. Pertandingan yang unik, karena jumlah pemain di tim A danB tidak sama. Yang penting seru. Di tim tempat ku merumput, sang kaptenmempercayaiku sebagai striker, dan kalau sudah capek berganti menjadi keeper.
Bola plastik bewarna putih itudikejar, dan diperebutkan para pemain untuk selanjutnya ditembakkan ke gawanglawan yang gawangnya hanyalah dua tonggak kayu. Tentu, lebar kedua gawangtersebut tidak sama persis, hanya dikira-kira.
Setengah jam berlarian di kebunsekolah, suasana menjadi memanas, debu abu-abu beterbangan menutup pandangankarena di acak acak oleh kaki pemain. Ditengah riuh dan serunya permainan. Adaorang datang berlari dengan nafas terengah-engah. Entah apa yang orang itusampaikan. Tiba-tiba semua berlari. Bola centil yang tadi diperebutkan, tak adalagi yang mau peduli. Semua berlarian, tak terkecuali para peserta termasukaku.

“Ini ada apa to, kok kitadisuruh mlayu?” Tanya ku.
“Nggak tau akh, katanya ada yangtenggelam” Balas salah seorang teman, yang juga sambil berlari kencang.
Kami semua tunggang langgangmelangkahkan kaki setinggi-tingginya. Tak tau kemana. Mencari apa. Hanyaberlari. Menyeberang jalan raya. Berlarian di hamparan sawah yang luas.Menginjak-injak pematang. Melewati jalan kecil yang naik turun. Lalu sampai kesungai.
“Ada apa to ini?” seseorangbertanya.
“Aku juga tidak tahu apa dosakita, sehingga harus lari jauh-jauh” jawab ku.

Aku tidak tau siapa yangtenggelam. Dalam hati menebak-nebak “Ini pasti hanya acara stressing”. Sudahterlalu sering aku menjadi peserta suatu acara, lalu panitia mempersembahkansebuah drama agar peserta merasa shock, lalu pada akhirnya ketawa ketawaseperti di reality show supertrap.

Sungai itu lumayan besar dandalam, tapi karena waktu itu musim kemarau Bulan Juli, ketinggian air rata-ratahanya sebatas mata kaki. Sangat dangkal. Fenomena itu menguatkan persangkaankubahwa kisah orang tenggelam di sungai itu hanyalah berita lucu untuk menipukami para peserta. Sangat tidak masuk akal jika ada orang tenggelam di sungaiyang kedalaman airnya tidak ada 20 senti. Sembari berlari menyusuri sungai,dalam hati aku tertawa geli. Kami berlari kecil ke arah timur mengikuti langkahpara senior. Ku jumpai tiga akhwat panitia duduk ditepi sungai sambil menangis.Akh Khayat Rosyadi, Ketum JN UKMI demisioner juga duduk tak berdaya, kelopakmatanya sembab, ia menjelaskan ke orang-orang dengan suara parau. Lalu, kulihatpula beberapa warga dusun datang menonton, mereka berdiri dan berteriak-teriakdi atas jembatan dan di pematang sawah. Melihat panitia menangis dan banyaknyawarga hadirin, dalam hati aku memuji para panitia. Hebat sekali mereka! Hanyauntuk satu sesi acara stressing saja mereka bersusah-susah mengumpulkanpenduduk pribumi?! Seketika aku teringat dengan beberapa acara reality showyang sering ku tonton di tv. Keren! Sandiwara yang apik! (pikirku).

Sampailah kami di muara sungai,yang kedalamannya sekitar satu lutut. Disitu berkerumun manusia-manusia hausinformasi. Sungai yang terletak di tengah-tengah persawahan yang jauh daridusun, yang sangat sepi itu, mendadak menjadi tempat kumpulan khalayak.

Ku amati juga, saudara IkhwanulMuslimin, Ketum SKI F. Pertanian demisioner yang berenang dan menyelam di muarasungai itu. Bagiku, itu pemandangan lucu. Air bewarna cokelat sedalam setengahmeter kok untuk menyelam?. Ia memasukkan diri ke air, sebentar kemudian muncullagi. Sesekali ku lihat ia senyum-senyum. Sangat kontras dengan ekspresi mukapanitia lain yang prihatin, cemas, dan panik. Senyum Ikhwanul, si penyelamtersebut mendukung asumsiku bahwa ini hanya sinetron religi yang sedangkuperankan.

Vika Yogi, ketum demisioner MIPAberlari kebingungan mencari tambang, raut wajahnya dan caranya bejalanmenunjukkan kegugupan dan panik luar biasa. Andi Hakim (FKIP) terduduk denganmuka memerah dan mata berlinangan. Serta, penduduk setempat yang berdatangan, semakinbertambah bilangannya.

Muara sungai itu letaknyadisebelah dam (bendungan penampungan air). Diantara sungai dan dam itu dibatasioleh pintu air- yang diatasnya terdapat jembatan yang bisa dilalui pejalankaki. Satu jam lebih aku duduk bersama hadirin lain menyaksikan saudaraIkhwanul Muslimin membenamkan diri ke air. Sampai, pukul 07.45, datanglahrombongan tim sar dan polisi. Melihat orang-orang berseragam orange dan coklattersebut, aku mulai mengubah pikiran dan dugaanku bahwa ini bukan drama sepertiyang aku terka-terka sebelumnya. Ini bukan hiburan untuk kami para pesertatraining!. Polisi mulai menginterview Khayat Rosyadi, sedangkan tim sar mulaimenjalankan misi sucinya: berenang  danmenyelam ke dasar sungai.
Kami mulai melangkah lebih dekatke muara, agar mata dan telinga bisa lebih jelas untuk menangkap kisahperistiwa pagi itu.

Kurang dari 10 menit kemudian,
Tim sar menarik tubuh seseorangyang tertidur

Innalillahi…Ya Allah….

Semua hadirin tercengang danserta merta melantunkan kalimat Allah. Tangis beberapa akhwat, semakinterdengar nyaring. Semua panita dan peserta menitikkan air mata, mulut merekaterkunci tak berucap kata-kata. Satu menit kemudian, tim sar menarik jasadsalah seorang ikhwan lainnya. Semua, hanya bisa terdiam, menatap kedua sahabatterbaik yang kini tidak lagi membuka mata. Tubuh Adiwardhana & Silmandimasukkan kedalam kantong jenazah lalu dibawa mobil ambulans ke RSUD Wonogiri.

Antara percaya dan tidak, kamisemua berharap-harap ini hanyalah mimpi buruk pagi, yang sebentar lagi akanbangun di dunia sebenarnya. Kembali bermain bola dikebun belakang sekolah.Kembali melanjutkan outbound yang telah dirancang panitia. Namun impian ituhanyalah angan kosong yang tidak nyata. Apa yang dihadapi pagi ini sebuahkenyataan getir yang telah menjadi suratan.

Setelah sekian lama duduk lesudi tepian sungai, kami semua membubarkan diri. Panitia & peserta kembali kemarkas di gedung SMP. Kembali menyeberangi lautan sawah.
Setibanya di sekolahan, kamimemanjatkan doa bersama. Dengan penuh haru. Dengan air mata mengalir,menghanyutkan kesedihan. Rangkaian acara hari Minggu yang telah disusun panitadibatalkan. Tidak ada outbound. Tidak ada acara masak-masak. Tidak ada. Yangada hanyalah sedu- isak tangis.

Sesaat setelah kecelakaan ituterjadi, aku langsung menghubungi seniorku di SKI Sastra: Junaidul Fitriyono,Tutut Wulandari, Ngadiyo, Lia Adhedia, dan Ardianus Ikhsan (yang waktu itubeliau sedang melakukan kunjungan kenegaraan ke Kota Bogor). Tentu mereka semuashock, dan berharap saya hanya salah bicara atau mengigau.

Pukul 10.00 peserta dipulangkandengan naik bus ke kota Surakarta. Di tengah perjalanan, semua adegan sejakbangun tidur, jalan di gelap malam, tilawah, sepak bola, berlari ke sawah,sampai melihat dengan jelas kedua sahabat diangkat Tim sar- terekam jelas, danfilm itu diputar berulang ulang dalam memori.

Tengah hari para peserta sampaidi kota Solo dengan kondisi lemas dan payah. Beberapa panitia masih di RSUDWonogiri, dan beberapa lagi dimintai keterangan oleh pihak polisi. Dihari itujuga, Silman dimakamkan di desanya di daerah Wonogiri, sedangkan Adiwardhanadimakamkan di kecamatan Ngrambe, Ngawi.

Petang hari, saya dan beberapaikhwan melayat ke Ngawi, dirumah almarhum kami disambut oleh Ibu Adiwardhana,dan saudara kembarnya Adiwardhani. Luar biasa, Ibu Adiwardhana begitu tabah dansabar menghadapi cobaan berat yang menimpa keluarganya. Beliau tidakmenampakkan kesedihan luar biasa, dan begitu antusias mendengarkan KhayatRosyadi yang menjelaskan kronologi terjadinya kecelakaan.
***

Pagi itu, Keempat panitia:Khayat Rosyadi (FE), Andi Hakim (FKIP), Adiwardhana (FE), dan Silman (FH), sedangmengfixkan rute outbound, disaat panitia lain dan peserta sedang bermain bola. Keempatnyaberjalan melewati hamparan sawah, dan menyusuri sungai. Mereka begitu asyikmelakukan survey sambil bermain lumpur pinggir kali, dan berfoto-foto. Merekaberjalan mendekati muara untuk membersihkan diri karena lumpur, karena genanganair muara cukup banyak dibandingkan dengan air yang tersisa di alur sungai.Silman berjalan ke tengah tengah, yang kedalamannya sekitar satu lutut.Sedangkan ketiga lainnya masih duduk duduk ditepi sungai. Beberapa detikkemudian, Silman terperosok tepat di tengah muara, ia masuk kedalam air sambilminta tolong dan tangannya menggapai-gapai. Ketiga yang lain tertawa gelimelihat Silman yang dikiranya sedang berakting tenggelam. Sangat lucu jika airdangkal bisa menghanyutkan. Namun pikiran mereka berubah tatkala melihat Silmanbenar-benar tenggelam.

Tanpa berfikir panjang,Adiwardha langsung berlari dan masuk muara untuk menolong Silman. Namun, karenabeliau juga tidak bisa berenang, akhirnya turut tenggelam. Melihat keduatemannya masuk kedalam air, Khayat Rosyadi berusaha menyelamatkan keduanya.Namun gagal juga karena tidak bisa berenang. Ketiganya tenggelam, lalu AndiHakim menceburkan diri ke Muara. Ternyata ditengah sungai itu ada sumur sedalam4 meter. Khayat sempat menyentuh dan merangkul Silman dan Adhiwardha. Namunakhirnya ikatan itu lepas karena sama sama tenggelam. Andi Hakim adalah orangpertama yang bisa naik ke atas, lalu ia menarik Khayat ke atas. Jika Khayatterlambat ditarik beberapa detik saja, entah apa yang terjadi. Ia telahkehabisan oksigen, dan sudah banyak air sungai yang diminumnya.

Hanya dua yang selamat, Andi danKhayat berteriak-teriak meminta tolong. Khayat berlari dengan kondisi lemas,dan jatuh bangun di jalan. Dan usaha mereka untuk mencari bantuan, tidak bisamenolong nyawa kedua temannya..
Tubuh Adiwardhana dan Silmanberhasil diangkat pukul 08.00 pagi, dua jam setelah tenggelam.

***
Ibu Adiwardhana mendengarkancerita Khayat dengan seksama…
“Boleh Ibu melihat foto-foto sebelum kecelakaan itu terjadi?” Beliau inginsekali melihat momen terakhir sebelum putera kesayangannya itu pergi selamanya.

“Sayang sekali Bu, kamera ituturut tenggelam, sehingga gambar kami saat survey turut lenyap” Jawab KhayatRosyadi dengan sedikit kekecewaan.
Di petang itu juga, Kakek-NenekAdiwardhana juga baru tiba di Ngawi dari tempat jauh, entah dari mana. SangNenek langsung menagis memanggil-manggil Adi, sedangkan sang Kakek tampak lebihtenang. Beliau turut menginterview kami teman terakhir yang bersama Almarhum,dan berpesan agar disampaikan ke perangkat desa supaya mereka menutup sumurtempat kecelakaan itu, sehingga tidak ada korban lagi dikemudian hari.

Adiwardhani, saudara kembaralmarhum mengatakan Adi telah dimakamkan tadi sore di samping makam ayahandanyadi kampung tersebut. Seperti halnya ibunya, Adiwardhani juga tampak tenang danbegitu tabah. Malam hari, kami berpamitan untuk kembali ke Solo. Akuberboncengan dengan Luhur, Ketum SKI F. Pertanian yang baru, menggantikanIkhwanul Muslimin. Ditengah perjalanan, film tentang kejadian tadi pagi selaludiputar berulang-ulang.
****

Aku mengenal Adiwardhana dansaudara kembarnya Adiwardhani sejak pertengahan tahun 2006. Kebetulan kosmereka dekat dengan kos Gedung Putih. Kami biasa bertemu di warung Bu Alexuntuk sarapan atau sahur saat puasa. Adiwardhana menyebut dirinya sebagai‘Adi’, sedangkan Adiwardhani memperkenalkan diri sebagai ‘Dani’. Wajah keduanyasangat mirip, sehingga aku tidak bisa mengidentifikasi mana yang Adi, mana yangDani. Kemana-mana mereka selalu bersama, jika tidak sedang kuliah. WalaupunDani belajar di Universitas Muhammadiyah Surakarta yang letaknya disebelahbarat Kota Solo, namun ia tinggal di kos dekat UNS, satu kamar dengan saudarakembarnya. Tak pernah berpisah, sampai mautlah yang memisahkan keduanya.
Anehnya, aku baru bisa mengenalibahwa secara fisik antara Adi dan Dani itu sedikit berbeda, baru setelah Adimeninggal dunia. Sebelumnya, aku selalu salah tebak, tak bisa membedakan wajahmereka.

***

Setelah peristiwa naas itu, SKISastra menjadi lebih hati-hati. Beberapa tahun sesudahnya, acara outbound disungai ditiadakan. Khawatir jika peserta ada yang terpeleset dan terbawa arus.Tatkala ada pengurus SKI Sastra yang mengusulkan atau memutuskan diadakannya acaraoutbound di sungai di daerah Karanganyar atau Boyolali, aku langsung memvetonya. Jika terjadi hal-hal seperti dulu, siapa yang bertanggung jawab?. Kalau yanghanyut cuma handphone atau dompet saja tidak jadi soal, masih bisa dicarikangantinya. Kalau berhubungan dengan nyawa, maka aku lebih memilih cara aman. Danlagi, jika keluarga korban sabar, tabah, dan menerimanya sebagai takdir itumasih bagus. Kalau keluarga korban tidak terima, dan menuntut dikembalikannyawanya- itu bisa memicu konflik bersenjata.

====



 (Boleh jadi memorisaya bermasalah, sehingga ada cerita peristiwa yang terlewatkan atau salah,masih banyak saksi sejarah yang bisa mengkoreksinya)

semoga bisa mengambil hikmahnya ya... syukron ...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar