Senin, 22 April 2013

BERORGANISASI DI KAMPUS, belajar bekerja ikhlas.



Sebagai mahasiswa, tuntutan dalam meraih ilmu dan pengetahuan sangatlah tinggi. Meraih ilmu (baca: belajar) merupakan tugas pokok mahasiswa. hal itu dikarenakan kampus merupakan lahan yang sangat baik untuk memetik pengetahuan seluas – luasnya. Amat rugi bila kesempatan ini tidak digunakan secara maksimal.

Mahasiswa bisa mengartikan belajar dalam bentuk apapun. Bisa belajar untuk meraih ilmu perkuliahan, belajar berorganisasi, belajar untuk berlatih kepekaan sosial, belajar untuk memenuhi kapasitas yang diinginkan atau apapun itu. Tentu, belajar dalam arah perbaikan dan kebaikan diri maupun orang lain.

Akan tetapi, ada hal yang sering dilupakan dalam proses belajar. Belajar tidak bisa instan. Belajar membutuhkan usaha yang keras. Rintangan yang berat jelas akan ditemui. Banyak yang gagal dalam meraih tujuan mereka. Tapi juga tidak sedikit orang yang berhasil mencapai tujuannya. Kebanyakan mahsiswa yang gagal karena tidak memasukkan unsur ini. Yaitu ikhlas.


Ikhlas mutlak dibutuhkan dalam proses belajar. Karena belajar pasti berinteraksi dengan orang lain. Dan karena berinteraksi dengan orang lain sering muncul rasa kekecewaan. Mungkin karena terlalu bergantung pada orang lain sehingga muncu rasa kecewa yang berlebih. Dengan adanya ikhlas, rasa kecewa bisa dinetralisir.

Ikhlas merupakan sebuah pelurusan niat. Rasa kecewa muncul terkadang karena niat yang sudah melenceng. Pikiran mahasiswa yang menjadi terkotak – kotak dan terlalu bersemangat sehingga bila sekali gagal maka langsung turun semangat akhirnya keluar jalur. Dengan adanya ikhlas, seseorang bisa kembali pada jalur yang benar.

Namun, ikhlas tidak bisa diraih dengan instan, perlu adanya proses yang panjang. Ikhlas perlu dipupuk sedini mungkin. Maka dari itu, kampus merupakan lahan yang cocok untuk melatih rasa keikhlasan seorang mahasiswa.  

Dalam buku “jalan cinta para pejuang” ust. Salim A Fillah, mengatakan bahwa butuh sebuah “keterpaksaan” dalam diri agar rasa ikhlas muncul. Pintu paksa ini dalam tanda kutip ke arah yang baik. Memaksa diri untuk mengalahkan ego, hawa nafsu. Untuk mengalahkan rasa kemalasan dan kebodohan. Memaksa diri untuk menghancurkan penjara hawa nafsu yang selama ini memenjarakan potensi kita. Bisa jadi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar