Sebagai mahasiswa, tuntutan dalam meraih ilmu dan
pengetahuan sangatlah tinggi. Meraih ilmu (baca: belajar) merupakan tugas pokok
mahasiswa. hal itu dikarenakan kampus merupakan lahan yang sangat baik untuk
memetik pengetahuan seluas – luasnya. Amat rugi bila kesempatan ini tidak
digunakan secara maksimal.
Mahasiswa bisa mengartikan belajar dalam bentuk apapun. Bisa
belajar untuk meraih ilmu perkuliahan, belajar berorganisasi, belajar untuk
berlatih kepekaan sosial, belajar untuk memenuhi kapasitas yang diinginkan atau
apapun itu. Tentu, belajar dalam arah perbaikan dan kebaikan diri maupun orang
lain.
Akan tetapi, ada hal yang sering dilupakan dalam proses
belajar. Belajar tidak bisa instan. Belajar membutuhkan usaha yang keras.
Rintangan yang berat jelas akan ditemui. Banyak yang gagal dalam meraih tujuan
mereka. Tapi juga tidak sedikit orang yang berhasil mencapai tujuannya. Kebanyakan
mahsiswa yang gagal karena tidak memasukkan unsur ini. Yaitu ikhlas.
Ikhlas mutlak dibutuhkan dalam proses belajar. Karena
belajar pasti berinteraksi dengan orang lain. Dan karena berinteraksi dengan
orang lain sering muncul rasa kekecewaan. Mungkin karena terlalu bergantung
pada orang lain sehingga muncu rasa kecewa yang berlebih. Dengan adanya ikhlas,
rasa kecewa bisa dinetralisir.
Ikhlas merupakan sebuah pelurusan niat. Rasa kecewa muncul
terkadang karena niat yang sudah melenceng. Pikiran mahasiswa yang menjadi
terkotak – kotak dan terlalu bersemangat sehingga bila sekali gagal maka
langsung turun semangat akhirnya keluar jalur. Dengan adanya ikhlas, seseorang
bisa kembali pada jalur yang benar.
Namun, ikhlas tidak bisa diraih dengan instan, perlu adanya proses
yang panjang. Ikhlas perlu dipupuk sedini mungkin. Maka dari itu, kampus
merupakan lahan yang cocok untuk melatih rasa keikhlasan seorang mahasiswa.
Dalam buku “jalan cinta para pejuang” ust. Salim A Fillah,
mengatakan bahwa butuh sebuah “keterpaksaan” dalam diri agar rasa ikhlas
muncul. Pintu paksa ini dalam tanda kutip ke arah yang baik. Memaksa diri untuk
mengalahkan ego, hawa nafsu. Untuk mengalahkan rasa kemalasan dan kebodohan.
Memaksa diri untuk menghancurkan penjara hawa nafsu yang selama ini
memenjarakan potensi kita. Bisa jadi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar